Ingin tidur, tetapi tidak bisa. Ternyata otak ini masih terus bekerja. Lamunan saya melompat kesana-kemari dengan riang. Tidak, memang sengaja tidak saya larang. Saya bebaskan saja, toh nanti jika dia sudah lelah dia akan beristirahat dengan sendirinya.
Melihat kesekeliling kamar ini, hijau warna cat temboknya, namun sudah terlihat agak kusam. Beberapa poster acara seni dan budaya berhasil menutup tembok yang sudah rusak atau retak. Lantai serta kaca pun sudah sangat berdebu. Seorang teman sempat bertanya kepada saya dengan logat daerah asalnya "Wah..prihatin sekali kamar kau? Kecil sekali?". Saya hanya membalasnya dengan senyuman.
Mama sempat berulang kali menanyakan akan kenyamanan tempat tinggal saya itu. Saya tidak protes dan tidak punya fikiran untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman. Pertanyaan itu selalu saya jawab "Nyaman kok Ma..Alhamdulillah..".
Entah mengapa, saya hanya punya keyakinan jika dari tempat seperti inilah saya benar-benar bisa merasakan 'perang' sekaligus 'kemenangan mutlak' pada akhirnya nanti. Bagi seorang anak (pejuang) laki-laki.
Andai saja kamar saya saat ini besar, bersih, dan dipenuhi berbagai macam fasilitas, mungkin saya tidak akan memiliki fikiran hingga ke arah sana. Mungkin saya sudah tidur dan memilih untuk bangun siang. Hambar dan tanpa tantangan sekali. Bukan hidup.
Beberapa waktu yang lalu raga ini sedang terlelap, hanya jiwa yang berpijak namun tidak tetap. Saat ini, raga ini sudah terbangun, jiwa pun sudah kembali bersamanya. Tuhan sudah mempersiapkan semua senjata itu di depan. Saatnya berperang, menghancurkan semuanya tanpa sisa dan kembali membangun istana impian dengan perlahan tapi pasti.

proses dimulai dari rasa sakit. mari berperang :)
BalasHapusHaha..sip :)
BalasHapusMari keluar dari zona nyaman kita :D